Facebook

Sabtu, 08 April 2017

PSIKOLOGI dan TAHAP PERKEMBANGAN PENDIDIKAN

Teori Perkembangan Kognitif,

Dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
·         Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
·         Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
·         Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
·         Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1.     Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2.     Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3.     Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4.     Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5.     Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6.     Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh, anak tidak akan lagi menganggap bahwa cangkir yang pendek tapi lebar memiliki isi lebih sedikit dibanding cangkir yang tinggi tapi ramping.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN
Dalam rentang kehidupannya, manusia melewati tahap-tahap perkembangan dimana setiap tahap memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai dan diselesaikan. Sebagian besar dari kita ingin berusaha menguasai dan menyelesaikannya pada waktu yang tepat .
Beberapa orang dapat berhasil, sedangkan yang lain kemungkinan tidak berhasil atau terlalu cepat dari tahap yang seharusnya.Munculnya tugas-tugas perkembangan bersumber pada faktor-faktor berikut:
·         Kematangan fisik
·          Tuntutan masyarakat secara cultural
·         Tuntutan dan dorongan dari individu itu sendiri
·         Tuntutan norma agama
Tugas-tugas perkembangan bagi setiap fase perkembangan dalam rentang kehidupan individu dapat diuraikan sebagai berikut:
A.    Tugas Perkembangan usia bayi dan kanak-kanak (0-6 tahun)
1.      Belajar berjalan
2.      Belajar memakan makanan padat
3.      Belajar berbicara
4.      Belajar buang air kecil dan buang air besar (toilet training)
5.      Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin
6.      Mencapai kestabilan jasmani fisiologis
7.      Belajar memahami konsep-konsep sederhana tentang kehidupan sosial dan alam.
8.      Belajar melakukan hubungan emosional dengan orang tua, saudara dan orang lain
9.      Belajar mengenal konsep baik dan buruk
10.  Mengenal konsep, norma atau ajaran agama secara sederhana
B.     Tugas Perkembangan usia Sekolah Dasar (7-12 tahun)
1.      Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan 
2.      Belajar membentuk sikap positif, yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk biologis (dapat merawat kebersihan dan kesehatan diri)
3.      Belajar bergaul dengan teman sebayanya
4.      Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya
5.      Belajar ketrampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung
6.      Belajar mengembangkan konsep (agama, ilmu pengetahuan, adat istiadat) sehari-hari.
7.      Belajar mengembangkan kata hati (pemahaman tentang benar-salah, baik-buruk)
8.      Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi (bersikap mandiri)
9.      Belajar mengembangkan sikap positif kehidupan sosial.
10.  Mengenal dan mengamalkan ajaran agama sehari-hari.
C.     Tugas Perkembangan usia remaja (13-19 tahun)
1.      Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
2.      Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang mempunyai otoritas 
3.      Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal
4.      Mampu bergaul dengan teman sebaya atau orang lain secara wajar
5.      Menemukan manusi model yang dijadikan pusat identifikasinya.
6.      Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
7.      Memperoleh self-control (kemampuan mengendalikan sendiri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip dan falsafah hidup.
8.      Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap dan perilaku) yang kekanak-kanakan
9.      Bertingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial
10.  Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga Negara.
11.  Memilih dan mempersiapkan karir (pekerjaan)
12.  Memiliki sikap positif terhadap pernikahan dan hidup berkeluarga.
13.  Mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
D.    Tugas Perkembangan usia dewasa awal (20-40 tahun)
1.    Mengembangkan sikap, wawasan dan pengalaman nilai-nilai (ajaran) agama.
2.    Memperoleh atau mulai memasuki pekerjaan
3.    Memilih pasangan
4.    Mulai memasuki pernikahan dan hidup berkeluarga
5.    Mengasuh, merawat dan mendidik anak.
6.    Memperoleh hidup rumah tangga
7.    Memperoleh kemampuan dan kematangan karir
8.    Mengambil tanggung jawab atau peran sebagai warga masyarakat
9.    Mencari kelompok sosial (kolega) yang menyenangkan.
E.     Tugas Perkembangan usia dewasa madya (40-60 tahun)
1.    Memantapkan pemahaman dan pengalaman nilai-nilai agama
2.    Mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga Negara
3.    Membantu anak yang sudah remaja untuk belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia.
4.    Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek fisik (penurunan kemampuan dan fungsi)
5.    Memantapkan keharmonisan hidup berkeluarga
6.    Mencapai dan menpertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir
7.    Memantapkan peran-perannya sebagai orang dewasa, baik di lingkungan kerja maupun masyarakat.
F.      Tugas Perkembangan usia dewasa akhir (60 tahun - mati)
1.    Lebih memantapkan diri dalam mengamalkan ajaran agama
2.    Mampu menyesuaikan diri dengan menurunnya kemampuan dan kesehatan fisik
3.    Dapat menyesuaikan diri dengan masa pensiun (jika pegawai negeri) dan berkurangnya “income”, penghasilan keluarga.
4.    Dapat menyesuaikan diri dengan kematian pasangan 
5.    Membentuk hubungan orang lain yang seusianya 
6.    Memantapkan hubungan yang lebih harmonis dengan anggota keluarga (istri, anak, menantu, cucu dan saudara)
Dengan mengetahui secara garis besar tugas-tugas perkembangan di atas, kita dapat menyusun program-program pembelajaran non formal untuk membantu mengasah ketrampilan dan bakat individu sehingga tugas-tugas perkembangannya dapat dikuasai dan diselesaikan tepat waktu.
Sejak tahap perkembangan masa bayi, individu dapat diberikan pendidikan non formal sesuai dengan kebutuhannya untuk membantu menguasai tugas-tugas perkembangan.Penting juga diketahui bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk menguasai dan menyelesaikannya.

Sumber :https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif#Periode_sensorimotor , http://tyantohimakata.blogspot.co.id/2012/04/makalah-psikologi-pendidikan.html

Psikologi Pendidikan

MOTIVASI


APA ITU MOTIVASI ?
       Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Motivasi murid dikelas berkaitan dengan alasan dibalik perilaku murid dan sejauh mana perilaku mereka diberi semangat, punya arah dan dipertahankan dalam jangka lama. Jika murid tidak menyelesaikan tugas karena bosan, maka dia kekurangan motivasi. Jika murid menghadapi tantangan dalam penelitian dan dia terus berjuang dan mengatasi rintangan, maka ia punya motivasi yang besar.

PERSPEKTIF TENTANG MOTIVASI
Perspektif tentang Motivasi terdiri dari empat perspektif :

1.      Perspektif Behavioral
      Menekankan pada imbalan dan hukuman eksternal adalah factor utama yang menentukan motivasi murid. Intensif adalah stimuli atau kejadian positif atau negative yang dapat memotivasi perilaku murid. Intensif ini dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilkau yang tidak tepat .

2.      Perspektif Humanistik
      Menekankan kapasitas pertumbuhan personal kita, kebebasan kita untuk memilih nasib, dan kualitas positif kita. Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut Hierarki Kebutuhan Maslow, kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan :
·         Fisiologis : lapar, haus, tidur
·         Keamanan : bertahan hidup, berlindung dari kejahatan
·         Cinta dan rasa memiliki : kasih sayang, perhatian dari orang lain.
·         Harga diri : menghargai diri sendiri
·         Akltualisasi diri : realisasi potensi diri. Merupakan kebutuhan tertinggi dan yang paling sulit. Aktualisasi diri adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.

3.      Perspektif Kognitif
      Memfokuskan diri pada motivasi internal untuk meraih sesuatu, atribusi, keyakinan murid bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif, dan dapat menetukan tujuan, merencanakan, dan memonitor kemajuan mereka kearah tujuan. Perspektif kognitif mirip dengan konsep motivasi kompetensi R.W.White yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi , yakni bahwa orang temotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif.

4.      Perspektif Sosial
      Menekankan perlunya afiliasi. Kebutuhan afiliasi dan ketehubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman.

MOTIVASI UNTUK MERAIH SESUATU

Motivasi Ekstrinsik  adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mecapai tujuan). Contoh , murid mungkin belajar keras menhadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang bagus.
Motivasi Intrinsik  adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Contoh , murid mungkin belajar keras menghadapi ujian karena dia senang dengan mata pelajaran yang diujikan itu. Ada dua jenis motivasi intrinsik :
·         Intrinsik dari determinasi diri dan pilihan personal
Menekankan pada determinasi diri. Dalam pandangan ini, murid percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemampuan mereka sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan internal
·         Pengalaman optimal
Pengalaman optimal berupa perasaan senang dan bahagia yang besar.

PROSES KOGNITIF LAINNYA

1.      Atribusi. Teori atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami perilaku atau kinerjanya sendiri. Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil.  Weiner mengidentifikasi tiga dimensi atribusi kausal :
a.      Lokus : apakah sebab-sebab itu bersifat ekternal atau internal bagi si murid
b.      Stabilitas : sejauh mana sebab-sebab itu tetap tak bisa diubah atau dapat diubah
c.       Daya kontrol : sejauh mana individu dapat mengontrol sebab tersebut
Kombinasi dari tiga dimensi ini menghasilkan penjelasan yang berbeda tentang kegagalan dan kesuksesan.
2.      Motivasi untuk menguasai. Yang berhubungan erat dengan ide tentang motivasi intrinsik dan atribusi adalah konsep motivasi penguasaan (mastery motivation). Tiga tipe orientasi prestasi :
a.      Orientasi untuk menguasai, berfokus pada tugas bukan kemampuan, dan melibatkan sikap positif dan strategi berorientasi solusi.
b.      Orientasi tak berdaya, fokus pada kelemahan personal, menghubungkan kesulitan dengan kekurangan kemampuan, dan menunjukkan sikap negatif (seperti rasa bosan dan cemas)
c.       Orientasi kinerja, lebih memperhatikan hasil dari pada proses pencapaiannya.
3.      Self-Efficacy adalah keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Self-Efficacy mempunyai kesamaan dengan motivasi untuk menguasai dan motivasi intrinsik. Self-Efficacy adalah keyakinan bahwa “Aku Bisa”.

MOTIVASI, HUBUNGAN, DAN KONTEKS SOSIOKULTURAL

     MOTIF SOSIAL adalah kebutuhan dan keinginan yang dipelajari melalui pengalaman dengan dunia sosial. Kebutuhan untuk afiliasi atau keterhubungan melibatkan motif untuk merasa aman dalam berhubungan dengan orang lain, yakni dengan menjalin, memelihara, dan memulihkan hubungan yang hangat dan personal.

     HUBUNGAN SOSIAL
v  Hubungan Murid dengan Orang Tua, meliputi :
·         Karakteristik demografis. Orang tua dengan pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mungkin percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak adalah penting. Mereka lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam pendidikan anak dan memberi stimuli intelektual di rumah. Prestasi murid dapat menurun apabila mereka tinggal dalam keluarga yang single parent, orang tua yang waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja, dan tinggal dalam keluarga besar.
·         Praktik pengasuhan anak. Berikut beberapa praktik parenting positif yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi : (1) mengenal betul anak dan memberi tantangan dan dukungan dalam kadar yang tepat, (2) memberikan iklim emosional yang positif, (3) menjadi model perilaku yang memberi motivasi.
·         Provisasi pengalaman spesifik di rumah. Membacakan buku untuk anak prasekolah dan memberi materi bacaan dirumah akan memberi efek positif pada prestasi dan motivasi membaca anak.

v  Hubungan Murid dengan Teman Sebaya. Teman sebaya dapat mempengaruhi motivasi anak melalui perbandingan sosial, kompetensi dan motivasi sosial, belajar bersama, dan pengaruh kelompok teman sebaya.
v  Hubungan Murid dengan Guru. Murid kemungkinan besar akan berkembang menjadi manusia yang kompeten apabila mereka merasa di perhatikan, karenanya guru harus mengenal murid dengan baik.
v  Hubungan Guru dengan Orang Tua.

KONTEKS SOSIOKULTURAL
Meliputi : Status Sosioekonomi dan Etnisitas, dan Gender


Selasa, 04 April 2017

Perkembangan Kognitif pada Anak

Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Seiring dengan masuknya anak ke sekolah dasar, maka kemampuan kognitifnya turut mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, dunia dan minat anak semakin luas, dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Pada sekolah dasar, pemikiran seorang anak sudah berkembang ke arah konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar dalam stadium belajar.

Jean Piaget menggambarkan masa kanak-kanak awal sebagai tahap praoperasional (preoperational stage) yaitu, mengenai kemajuan pemikiran seorang anak terhadap penggunaan pemikiran simbolis, empati, pemahaman terhadap angka, pemahaman sebab akibat, tetapi masih belum dapat menggunakan logika. ketidakmatangan pemikiran anak, Proses dasar dan kapasitas,  dan merekognisi dalam pengingatan.


Pengertian cerdas tinggi merupakan pengertian yang sensitif dan bahkan dapat dianggap sebagai pengertian yang diskriminatif terhadap mereka yang tidak tergolong cerdas tinggi. Dan ini akan menimbulkan pengertian yang elit dan kelas yang istimewa. Namun kenyataannya memang ada yang berbeda diantara orang yang satu dengan orang yang lain, tidak hanya dalam warna kulit atau panjang badan melainkan juga kemampuan kognitif, sosial, kreativitas, atau motorik. Mengandung pengertian bahwa harus ada kesempatan yang sama bagi semua anak, yang diinterpretasi salah sebagai pengertian bahwa semua anak adalah sama, menyebabkan dan usaha pendidikan paling akhir dicurahkan bagi anak-anak yang mempunyai kecerdasan yang tinggi.